Bali, dengan segala keindahan objek
wisatanya selalu memberikan kesan bagi wisatawan yang berkunjung, baik itu
hanya sekedar jalan-jalan atau rekreasi, atau kepentingan lainnya. Dengan
budaya yang unik menarik yang dimiliki Bali, seperti tempat-tempat sakral
dengan mitos-mitos tersendiri, menjadikan Bali sebagai Daerah Tujuan Wisata
yang banyak diminati wisatawan lokal maupun mancanegara. Begitu juga dengan
objek wisata Tirta Empul, segala sesuatu baik itu cerita dan sejarahnya sangat
menarik di ketahui.
Daya tarik yang dimiliki oleh Objek
Wisata Tirta Empul bisa dilihat dari peninggalan purbakala antara lain berupa
Lingga Yoni dan Arca Nandi yang ditempatkan dibelakang aling aling pintu masuk
pura serta arsitektur pura
yang menarik. Namun
yang menjadi daya tarik utama objek ini adalah pancuran air yang jernih dan
dipercaya berkhasiat oleh masyarakat Bali sebagai pembersih dan penyembuh,
dimana sumber air kolam tirta empul adalah mata air yang tidak putus-putus
mengalirkan air. Mata Air yang disakralkan ini
diyakini dapat menetralisir pengaruh negatif atau kata lainnya mata air disini
diyakini bisa membersihkan diri kita dari kekuatan jahat. Keyakinan itu muncul karena banyak
orang yang sakit dan sudah berobat ke berbagai dokter dan tidak kunjung sembuh,
setelah mandi di Mata Air Tirta Empul dengan menghaturkan sesajen, penyakitnya
langsung sembuh.
Seperti pura pada umumnya, Pura Tirta
Empul terdiri dari tiga bagian. Yakni Jaba Pura (Halaman Muka), Jaba Tengah
(Halaman Tengah), dan Jeroan (Halaman Dalam). Pada Jaba Tengah terdapat dua
kolam persegi panjang yang memiliki 33 buah pancuran, berderet dari Timur ke
Barat menghadap ke Selatan. Masing – masing pancuran itu menurut tradisi
mempunyai nama tersendiri diantaranya pancuran Pengelukatan, Pebersihan, Sudamala,
dan Pancuran Cetik (Racun). Di Pura Tirta Empul ini juga terdapat sebuah kolam
dengan ikan yang berwarna warni, di sini wisatawan bisa membeli pakan ikan dan
memberikan pakan tersebut ke ikan-ikan.
Letak dan Akses :
Pura Tirta Empul terletak di Desa
Manukaya, Kecamatan Tampak Siring, Kabupaten Gianyar, Bali. Akses menuju Objek
Wisata Tirta Empul ini berjarak
sekitar 36 kilometer dari kota Denpasar, atau menempuh sekitar ±1 jam
perjalanan atau ±2 jam perjalanan dari daerah Kuta.
Pura Tirta Empul ini juga
bersebelahan dengan Istana Presiden Tampak Siring yang dibangun oleh Presiden
I, Soekarno pada tahun 1957. Letak dari
istana ada diketinggian bukit kecil dan bisa melihat ke bawah ke arah pura
Tampak Siring ini. Sebenarnya keadaan seperti ini
dimana pura ada di bawah tempat peristirahatan, sangat jarang ditemukan di
Bali, karena biasanya tempat suci letaknya selalu sedikit di atas dari bangunan
tempat tinggal. Tetapi menurut cerita yang ada, Presiden Soekarno, sangat senang
melihat pemandangan permandian di sekitar pura Tirta Empul, sehingga beliau
memutuskan untuk membangun peristirahatan tersebut. Sekarang istana Tampak
Siring, lumayan sering digunakan untuk pertemuan kenegaraan oleh Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono.
Sejarah nama ‘Tirta Empul’ :
Menurut
cerita yang tertulis di lontar “Mayadanawantaka”. Raja Mayadenawa, merupakan
putra Bhagawan Kasyapa dan Dewi Danu. Mayadenawa, adalah raja yang pandai,
sakti namun memiliki sifat durjana, yakni sifat berhasrat menguasai dunia dan
mabuk akan kekuasaan. Ia juga mengklaim sebagai Dewa dan mengharuskan rakyat
untuk menyembahnya.Dalam mitos yang berkembang, akibat tabiat buruknya, Batara
Indra marah dan menyerbunya melalui bala tentara yang dikirim. Karena terdesak,
Mayadenawa melarikan diri ke hutan dan berupaya mengecoh pasukan Batara Indra
engan memiringkan telapak kakinya saat melangkah. Konon dengan kesaktian yang
dimilikinya, ia bisa berubah-ubah wujud atau rupa.Mayadenawa juga menciptakan
mata air beracun, untuk membinasakan pasukan Batara Indra. Menghadapi trik
Mayadenawa, Batara Indra pun tak mau kalah dan menciptakan mata air penawar
racun. Air penawar itulah yang kemudian menyelamatkan nyawa pasukan Batara
Indra hingga kemudian berhasil menangkap Mayadenawa. Air penawar itulah yang
kini disebut Tirta Empul (air suci). Sedangkan kawasan hutan yang dilewati
Mayadenawa - dengan berjalan memiringkan telapak kakinya - dikenal dengan sebutan Tampaksiring.
Tirta
Empul dibangun pada zaman pemerintahan Raja Masula Masuli yang berkuasa dan
memerintah di Bali. Hal ini dapat diketahui dari bunyi lontar Usana Bali. Isi
dari lontar itu disebutkan artinya sebagai berikut : “Taktkala itu senang
hatinya orang Bali semua, dipimpin oleh baginda Raja Masula Masuli, dan rakyat
seluruhnya merasa gembira, semua rakyat sama-sama mengeluarkan padas, serta
bahan bangunan lainnya, seperti dari Blahbatuh, Pejeng, Tampaksiring”. Dalam
prasasti Sading ada disebutkan, Raja Masula Masuli bertahta di Bali mulai tahun
€aka 1100 atau 1178
M, yang memerintah selama 77 tahun. Berarti ada perbedaan waktu sekitar 216
tahun antara pembangunan permandian Tirta Empul dengan pembangunan puranya.
Tirta
Empul adalah objek wisata yang wajib dikunjungi para pelancong luar Bali,
apalagi wisatawan atau pelancong tersebut memiliki ketertarikan dengan sejarah
tempat sakral atau tempat-tempat yang memiliki cerita menarik seperti Pura
Tirta Empul di Pulau Dewata, Bali.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar